Bersenang-Senang Kemudian

          Manusia melakukan aktifitas setiap harinya, untuk mencari nafkah atau dalam proses menuju jenjang tersebut. Rutinitas ataupun hal baru yang dilakukan, akan selalu ada batas jenuh seorang manusia untuk menjalankannya. Di situlah yang namanya liburan dibutuhkan.

Jenuh, penat, stres yang lumayan memberatkan otak untuk berpikir mulai merasuk. Deadline tugas membuat majalah kelompok hanya dua pekan tersisa. Ujian akhir semester pun ikut menghantui pikiran. Melihat ke depan dan terbayang tentang liburan, aku akan pergi berlibur dalam waktu dekat. Pekan depan, hari jumat, aku dan keluarga akan pergi berlibur ke luar pulau selama 9 hari, itu berarti satu pekan sebelum ujian akhir semester, kolom kehadiranku akan terisi kosong. Mengingat hari, syukurlah, hari senin depan hari libur nasional, jadi absen kosongku berkurang satu hari. Tetapi sudah seharusnya ku kebut selesaikan tugas-tugas yang sudah kuabaikan selama ini, aku hanya punya waktu satu pekan lagi untuk menyelesaikannya sampai ku berangkat berlibur.

Mengerjakan tugas yang telah diberikan dari berbulan-bulan lalu, berat rasanya untuk kukerjakan dalam waktu satu pekan saja. Belum lagi ditambah oleh tugas dari mata kuliah lain. Yasudah, itu semua salahku. Sekarang aku harus bertanggung jawab menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Beruntung itu adalah tugas ber-regu, jadi aku tidak usah mengerjakan semuanya.

Mengerjakan semua tugas ini dalam waktu satu pekan tidaklah mudah. Aku harus merelakan jam tidurku beberapa jam setiap harinya agar dapat menyelesaikannya tepat waktu sebelum ku berangkat pergi. Melihat saudara-saudaraku yang sudah memasuki waktu liburannya, aah.. Aku iri rasanya. Mereka sudah bebas. Bersantai dan tertawa di rumah tanpa beban sambil menantikan waktunya pergi berlibur. Aku hanya bisa duduk tenang, berpikir keras di depan laptop sambil menghibur diri. Melihat mereka tertidur lelap, rasanya ingin ku tarik selimut dan bergabung. Ku harus semangat, aku harus bisa menyelesaikannya. Tidak boleh sampai membawa sisa tugas ke tempat berlibur.

Sehari, dua hari, hingga akhirnya tiba hari kamis yang sudah kunanti-nanti. Hari itu adalah waktunya menyerahkan pekerjaan bagian majalahku kepada teman kelompok agar mereka menggabungkannya dan cetak. Senang rasanya mengetahui bahwa aku tidak akan membawa tugas ketika pergi nanti. Bisa gila aku kalau itu sampai terjadi.

Kamis malam, dengan cepat kukemas barang bawaan. Sepi rasanya mengemas sendirian, Saudara-saudaraku yang lain sudah berangkat sehari sebelumnya, lalu aku dan orang tuaku menyusul. Mereka membiarkanu untuk menyelesaikan tugas kuliah dan urusan lainnya terlebih dahulu.

Bodohnya diriku, bukannya aku membiarkan diriku istirahat pada malam itu agar tubuh ku segar ketika berangkat esok pagi, tapi aku malah menggunakan waktuku untuk menonton semalaman. Sudah merasa lelah dengan menonton, kupejamkan mataku sejenak untuk sekaligus mengistirahatkan badan ini pukul 3 pagi, hari Jumat. Beberapa detik berlalu, aku mendengar seseorang membuka pintu kamar dan berkata “hey bangun nak, mari kita siap –siap berangkat ke bandara”. Aku yang lelah, dengan refleks, langsung beranjak ke kamar mandi dan bersiap secepat mungkin serta melupakan tubuhku yang belum beristirahat, “Ah, masih ada waktu yang panjang untuk sampai ke bandara, aku bisa tidur dulu di jalan.” Ya lalu, aku tidur sepanjang perjalanan. Sesampainya di bandara pukul 6 pagi, aku dan kedua orang tuaku menunggu kakakku datang dari lokasi yang berbeda.








[Kepulauan Riau dari atas]
Perjalanan cukup panjang untuk mencapai lokasi yaitu Pulau Dabo Singkep, Kepulauan Riau, perlu transit di Batam. Setelah kami sampai Batam, kami hendak mengunjungi saudara yang tinggal di sana terlebih dahulu dan lalu berangkat lagi dengan pesawat kecil (Susi Air) menuju Pulau Dabo Singkep. Jam 6 malam kami sampai lokasi dan aku merasa sangat senang dapat bergabung dengan saudara-saudaraku yang sudah sampai sehari lebih dulu. Keesokkannya aku.dapat melihat pantai dan laut yang bersih, gemuruh ombak yang membuat hati tenang, angin sejuk dan udara yang bersih yang ringan polusi, matahari yang hangat terasa. Aku menikmati perjalananku tanpa beban tugas yang memberatkan, Tidak sia-sia untuk bekerja keras terblebih dahulu demi untuk mendapatkan ketenangan di kemudian hari. Seperti kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakitsakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Tajuk Rencana, Pojok, dan Karikatur?

Kekhasan Dua Varietas Umum Kopi

Masih Melekatnya Jiwa Muda